Meski Dibombardir, Masjid-Masjid di Gaza Tetap Penuh Sesak Oleh Jamaah

Bookmark and Share

Meskipun Jalur Gaza dibombardir Zionis Israel sejak Rabu pekan lalu yang mengakibatkan banyaknya korban tewas dan terluka, kehidupan beragama warga Palestina tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Operasi militer Israel yang melumpuhkan hampir semua lini kehidupan di Gaza tidak memengaruhi penduduknya untuk menjalankan ibadah.

Sebagaimana yang dilaporkan reporter kantor berita Anatolia, jumlah jamaah yang mendatangi masjid terus bertambah dibandingkan hari-hari sebelumnya walaupun bahaya untuk keluar rumah sangat besar di saat meningkatnya eskalasi militer Zionis Israel.

Yasir Abdurrahman, imam masjid Tabi’in yang berada di pusat Jalur Gaza, mengatakan fenomena ini terjadi karena adanya keinginan masyarakat untuk kembali kepada Allah. Menurutnya, musibah dan krisis membuat seseorang ingin lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik (Maha Pencipta).

“Sekarang ini masjid selalu penuh sesak layaknya shalat Jumat. Ini merupakan kabar gembira akan dekatnya kemenangan,” katanya sambil tersenyum.

Rakyat Palestina selalu mengingat kata-kata yang pernah diucapkan salah seorang Perdana Menteri Israel, David Ben-Gurion yang berbunyi, “Kita tidak akan pernah takut kepada orang-orang Islam kecuali jika jumlah jamaah shalat subuh seperti shalat Jumat.”

Sementara itu, Abu Muhammad, 78 tahun, salah seorang jamaah Masjid Hasan Al Banna di pusat Jalur Gaza, yang juga mengutip perkataan PM Israel itu, berharap banyaknya orang yang datang ke masjid merupakan salah satu penyebab agar dirinya bisa kembali ke kota kelahirannya Ashdod yang ditingalkannya semenjak kecil sekitar 60 tahun silam, jika Allah menakdirkan kemenangan bagi kaum muslimin.

“Ketika Allah melihat kita dekat kepada-Nya, Dia akan memberikan apa yang kita minta, dan Dia tidak akan menahan kemenangan dan kejayaan yang akan kita raih. Allah akan mengembalikan tanah kami, membebaskan tempat-tempat suci agama kami dan mewujudkan impian kami untuk kembali ke rumah dan kebun-kebun jeruk kami di Ashdod, Ashkelon dan Hamama. Tidak mustahil semuanya akan terjadi,” papar Abu Muhammad dengan bahasa yang sederhana kepada wartawan kantor berita Anatolia.

Berbeda dengan dua orang sebelumnya, Muhammad Nassar melihat banyaknya jamaah yang mendatangi masjid di saat meningkatnya eskalasi militer Zionis Israel merupakan cerminan rasa takut akan kematian yang memenuhi hati warga Jalur Gaza akibat serangan yang terus menerus dilakukan Israel terhadap warga sipil yang tak bersenjata.

“Kematian menghantui orang-orang di manapun mereka berada sementara diri mereka ingin mendapatkan kenyamanan dan ketenangan hati dan berusaha menghilangkan rasa takut tersebut. Oleh karena itu, mereka berlomba-lomba pergi ke masjid dan menganggap cara ini sebuah kesempatan dalam memulihkan keadaan walau untuk sementara waktu dengan menghadap Allah Ta’ala (ketika shalat),” imbuh pemuda yang masih berumur dua puluh tahunan itu.

Pendapat Muhammad Nassar ini dibantah oleh sekelompok pemuda yang ditemui reporter Anatolia setelah shalat subuh pada hari berikutnya. Mereka mengatakan bahwa mereka datang ke masjid untuk melakukan shalat wajib bukan semata-mata karena takut mati tetapi merupakan upaya untuk bertobat dan kembali kepada Allah serta memohon kemenangan kepada-Nya. Seorang pemuda di antara mereka mengutip firman Allah Ta’ala yang berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)

Sementara itu, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama di Gaza menggunakan kesempatan ini untuk menyiarkan pesan yang menanamkan rasa aman dan harapan ke dalam hati masyarakat dan menyampaikan ceramah tentang sejarah pendahulu umat Islam dan sikap mereka dalam menghadapi beragam cobaan.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Bimbingan di Provinsi Deir Al Balah, Jalur Gaza, Syaikh Ahmad Abu Dalal mengatakan, “Orang-orang berlindung kepada Allah dengan harapan Dia memberikan kemenangan kepada mereka, melindungi anak-anak dan keluarga mereka dari bencana. Mereka juga mengharapkan janji Allah yang akan memberikan kejayaan kepada hamba-hamba-Nya yang tertindas yang sedang menghadapi sebuah kekuatan jahat di bumi ini dengan bertelanjang dada dan tanpa senjata.”

Abu Dalal tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa rasa takut merupakan faktor utama yang membuat masyarakat datang berbondong-bondong ke masjid. Ketenangan yang dirasakan masyarakat di dalam masjid dan kondisi spiritual yang mereka dapatkan melalui doa-doa Qunut yang dipanjatkan para imam di dalam shalat serta ceramah yang mengingatkan mereka kepada kekuasaan dan kekuatan Allah Ta’ala merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk senantiasa menunaikan shalat berjamaah di masjid.

Menurut Syaikh Abu Dalal, fenomena ini menunjukkan dekatnya pertolongan Allah, “Jika jiwa manusia telah berubah ke arah yang lebih baik maka Allah akan mengubah keadaan. Manusia yang kembali untuk menaati Allah tidak akan merugi,” pungkasnya.

http://news.fimadani.com/read/2012/11/21/meski-dibombardir-masjid-masjid-di-gaza-tetap-penuh-sesak-oleh-jamaah/

Reporter: Muhammad Manshur
Redaktur: Abu Hafsah
Sumber: Anatolia

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar