Menikah Setelah 16 Tahun Terpisah

Bookmark and Share

Aku tidak pernah melihat kamu selama 16 tahun, aku tidak tahu di mana kamu berada selama 16 tahun, tapi aku tidak pernah lupa kamu. Aku mencintaimu sejak awal dan aku akan mencintaimu sampai akhir. Aku berjanji).


Itulah kalimat yang kami tulis dalam undangan pernikahan, janji manis kami sekaligus ungkapan syukur atas kejadian luar biasa. Ya, bisa dibilang, pernikahanku dengan Alberto Giovani Sundah (Evan) seperti sebuah reuni. Kami terpisah 16 tahun lamanya. Selama itu masing - masing punya kehidupan cinta sendiri.

Aku akan mulai kisahku dari pertemuan pertama kami. Saat itu, pada 1990, kami duduk di kelas III SD Bopkri Gondolayu, Jogjakarta. Dia baru pindah dari Manado. Cakep menurutku. Tetapi aku terlalu pendiam untuk berani mengajaknya bercakap - cakap. Kami berteman sampai lulus SD. Selama itu aku tidak jarang mendapati teman - teman perempuanku bergunjing tentang Evan. Banyak yang naksir lah intinya. Itu membuatku makin mengkerut.

Hanya, waktu itu, seperti kebanyakan anak SD, kami satu kelas saling mengedarkan buku warna - warni untuk diisi biodata. Diary sebutannya waktu itu. Begitulah, aku pun pernah menuliskan data - dataku pada buku diary Evan. Nama, alamat rumah, hobi dan cita - cita. Aku masuk SMP yang berbeda dengan Evan, begitu juga saat SMA. Seiring berlalunya waktu, kenangan akan dia mulai memudar. Kaget sekali waktu di tahun pertama SMA itu, Evan mengirim kartu Natal, gambarnya Mickey Mouse. Di kartu itu, dia menyapaku: Erma, teman SD-ku. Meski senang, aku tidak segera membalas. Apalagi saat itu aku mempunyai pacar.

Saat valentine tahun berikutnya, aku mengirim kartu ucapan kepada Evan. Pikirku, itu merupakan pengganti balasan kartu Natal. Dia tidak membalasnya dan aku bersikap biasa saja. Tetapi pada Natal berikutnya, Evan kembali mengirim kartu ucapan. Gambarnya pun kartun. Lagi - lagi aku tak merespon. Benar - benar tidak ada komunikasi lagi sejak itu. Tapi, Tuhan punya rencana lain. Saat facebook booming, aku tidak termasuk orang yang menggunakan jejaring sosial tersebut. Baru 2010, aku membuat akun FB. Inilah momennya. Aku menemukan akun Evan diantara puluhan teman lamaku dan kembali menjalin komunikasi.

Hanya berjarak satu hari setelah aku add akun FB-nya, Evan mengajakku bertemu. Kami janjian makan dan menonton. Herannya, saat bertemu kali pertama, setelah 16 tahun terpisah, kami mengobrol sangat akrab. Seolah - olah kami adalah sahabat sejak kecil. Padahal, bayangkan, saat SD aku menatap wajahnya saja tidak berani. Hehehe.. First date itu berlanjut pada saling telepon selama berjam - jam. Lalu, ada pertemuan - pertemuan berikutnya. Lantaran merasa sudah akrab, saat berjalan - jalan pun kami tanpa canggung bergandengan. Padahal, kami belum punya komitmen berpacaran.

Suatu hari aku mendapat telepon dari nomor HP Evan. Seorang perawat mengabarkan bahwa pemilik HP tersebut mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Segera aku meminta teman untuk mengantar ke rumah Evan dan mengabarkan hal itu kepada keluarganya. Evan dibawa pulang ke Jogja dan aku beberapa kali menjenguknya. Dari intensitas itu, pada 1 Mei kami memutuskan untuk resmi berpacaran.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar