Ketika Pria Memanfaatkan Wanita

Bookmark and Share

Perbedaan antara dicintai dan dimanfaatkan oleh pasangan bisa tipis. Sadari sebelum hidup porak poranda.

Di usia yang berkepala tiga, Hima, sebut saja namanya begitu , mapan dalam pekerjaan. Apartemen dan kendaraan sudah dia miliki di Ibu Kota. Bertugas atau berlibur ke luar negeri juga bukan pengalaman baru. Di Jakarta dia tinggal sendirian. "Punya pacar rasanya tenang, enak, ada yang perhatian," tutur perempuan berambut panjang yang enggan menyebut nama aslinya itu.


Sekitar lima tahun silam, Hima berkenalan dengan seorang laki - laki seumuran. Boi, sebut saja begitu. Selama itu pula mereka berpacaran. Penghasilan Boi dalam profesinya di bidang kreatif tidak menentu. Pekerjaannya serabutan, tergantung proyek yang dia kerjakan. "Saya suka memberinya proyek. Maksudnya supaya dia bisa termotivasi dan terus berusaha," jelas Hima.

Dengan upaya itu pula Hima berharap hubungan dia dengan Boi bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Sayang seribu sayang, harapan Hima bertepuk sebelah tangan. Urusan Boi ternyata terlalu didominasi hal lain, termasuk membiayai sekolah adik - adiknya dan urusan pekerjaan. Kondisi keuangannya juga memburuk.

Hima tak sampai hati. Ia mengaku sempat juga meminjamkan uang kepada sang kekasih agar dapat membayar uang sekolah adik - adiknya. "Membelikan barang kebutuhan sehari - harinya juga. Enggak terasa, kok lama - lama sepertinya saya menafkahi dia," tutur Hima. Puncak kekhawatiran Hima tiba saat dia memeriksa sebuah proyek pekerjaan rancang bangun yang diserahkan kepada Boi. Banyak harga barang, kata Hima, yang ditinggikan, sedangkan barang yang dipasang di proyek tidak sesuai spesifikasi.

Sejak itu Hima mulai ragu. "Apa benar dia cinta, atau jangan - jangan saya yang dimanfaatkan," ujar dia. Untuk membubarkan hubungan, Hima sempat juga tidak yakin. "Ya itu tadi, rasanya enak, ada yang perhatian. Lagi pula, di usia saya ini, kapan lagi saya bisa punya pacar dan segera menikah," alasannya. Sekarang, beberapa teman sekantor Hima (meskipun dia mengaku tidak memiliki sahabat akrab) mendorongnya untuk segera mengakhiri hubungan dia dengan Boi.

Ada lagi Rifa, juga bukan nama aslinya. Usianya pun kepala tiga, dia tak ingin angka aslinya ditulis. Rifa perempuan wirausaha yang mapan dalam bidang konstruksi. Meski orangtuanya juga tinggal di Jakarta, Rifa tinggal sendiri di rumah yang dia beli di sebelah timur Ibu Kota. Ia pun mengendarai roda empat hasil jerih payah sendiri.

Sudah sekitar tiga tahun ini Rifa berpacaran dengan Hedi, sebutlah begitu. Laki - laki sepantarnya itu, kata Rifa, juga berwirausaha. "Tapi kayaknya usahanya kok seret terus ya," tutur perempuan berkulit gelap itu sembari tertawa. Serupa dengan Hima, Rifa pun kerap memenuhi kebutuhan sehari - hari sang kekasih. "Ya makanan, baju, sepatu, atau sekedar ngopi di kafe," kata dia.

Pernah juga, Rifa berkisah, ia meminjamkan uang. "Untuk modal usaha lah ceritanya. Sudah sekitar dua tahun lalu dan sekarang belum diganti. Aku enggak pernah nagih juga karena enggak ingin berkesan hitung - hitungan," kisah Rifa. Ia enggan menyebut jumlah uang itu, tapi mengangguk saat dipastikan jumlahnya jutaan.

Beberapa bulan silam, Rifa dirundung duka. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Rifa cidera dan mobilnya rusak. Disaat harus terbaring di rumah sakit, Rifa meminta bantuan Hedi untuk mengurusi administrasi dan asuransi kendaraan, juga urusan negoisasi dengan pengendara yang menabraknya.

"Dia seperti banyak alasan. Orang tua saya kan sudah lansia, enggak bisa bantu urusan gituan. Masak iya pacar sendiri enggak mau bantuin. Alasannya lagi sibuk ngurus kerjaan," tutur Rifa sembari mengernyitkan dahi. Ujungnya, Rifa dibantu seorang rekan usahanya. Sejak itu pula Rifa menyimpan keraguan. "Gila ya, jangan - jangan selama ini saya dimanfaatkan. Jangan - jangan ia memang enggak pernah cinta," kata dia yang kini tengah mempertimbangkan untuk membubarkan hubungan itu.

Psikolog Roslina Verauli menegaskan, hubungan pasangan kekasih sudah harus dipikirkan ulang saat hubungan itu mengganggu kehidupan salah satunya. Termasuk saat salah satu merasa dimanfaatkan. "Takarannya saat salah satu sudah mengalami kesulitan. Misalnya terbelit utang atau tabungan menipis, atau mengalami kerugian," kata dia.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar