Menyiksa Anak Dengan Kesenangan

Bookmark and Share
v

Anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga-keluarga yang serba ada, penuh kasih sayang tetapi kurang disiplin, menghasilkan anak manja. Semua keinginan mereka relatif terpenuhi berlimpah.
Ada banyak alasan orangtua memanjakan anak. Di kota besar alasan klasik adalah orangtua kasihan dengan anak yang ditinggal sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Kesibukan kerja membuat mereka lebih mengikuti kemauan anak. Pemanjaan sebagai jalan mengatasi rasa bersalah. Semua fasilitaspun disediakan.
Sementara itu, ada orangtua yang tergoda memanjakan anak karena trauma dengan masa lalunya yang sulit dan pahit. Hidup dalam kemiskinan (ortu) yang menyakitkan. Setelah dia menjadi “orang” alias kaya, dia mau anaknya senang. Fasilitas diberikan secara berlebihan.
Tak jarang anak sampai taraf duduk di SMP, untuk membuat minumanpun selalu sang Ibu atau pembantu yang menyediakan. Mengangkat tas ke mobil, dan sebagainya ada supir. Akibanya anak tidak mandiri. Daya juangnya tidak bertumbuh.
Harga diri mereka pun relatif rendah. Sebab harga diri mereka dibangun atas apa yang mereka miliki (secara lahiriah) bukan pada karakter dan nilai hidup yang sehat. Penyebab lainnya adalah hubungan batin dengan orang tua tidak terbangun, sehingga mereka cenderung menjadikan teman sebagai sarana curhat dan menghabiskan waktu. Jika mereka bertemu dengan teman yang salah, mereka mudah tersesat dalam pergaulan yang buruk. Apalagi mereka diberi uang jajan berlebihan.
Sikap manja manja juga akan terjadi pada anak jika orang tua dulunya juga mendapatkan pola asuh yang cenderung tertekan atau merasa kurang bebas, maka orangtua bersikap serba membolehkan anak, maka tanpa terasa orangtua telah mencetak anaknya menjadi individu yang manja.
Adapun cara mengatasi anak yang manja secara berlebihan (manja yang sampai menganggu kemandirian anak) yaitu: Tidak memberikan pola asuh yang berpusat pada sikap permisif. Tapi juga tidak berarti melarang semua hal yang ingin dilakukan.
Ketika anak menuntut segala sesuatu yang berlebihan dan cenderung mengatur orang tua. Maka sikap tegas dari orang tua sangat diperlukan. Cobalah mengenalkan hukuman, tidak harus dipukul. Cukup dengan menyuruh anak untuk duduk diam beberapa menit, itu hukuman yang cukup bagai anak.
Libatkan anak pada kegiatan sosial, usaha ini dilakukan agar anak dapat banyak melihat, belajar dan berinteraksi lebih luas. Ketika anak menunjukan sikap manjanya maka orangtua dapat mengalihkan perhatian anak pada hal atau kegiatan yang disukai anak.
Beri kesempatan untuk bermain bersama anak-anak lain, ini untuk menimbulkan sikap pengertian dan berbagi, sehingga anak memiliki kedewasaan dalam bersikap. Orang tua juga harus selalu memberi contoh atau teladan bagaimana bersikap gotong-royong atau saling menolong dihadapan anak.
Beri sentuhan fisik kasih sayang seperti pelukan, ciuman, dan belaian dalam menenangkan anak jika sikap manjanya muncul. Beri juga kalimat untuk menyakinkan anak bahwa apa yang dilakukan tidak baik. Dan jika anak dalam situasi yang sulit, kuatkan dia dengan kalimat-kalimat dukungan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sebenarnya ada banyak cara untuk membuat anak tidak lagi manja, namun cara-cara tersebut akan sia-sia jika orang tua tidak melakukan perubahan dalam mengasuh anaknya, terutama orang tua yang dekat dengan anak.
Akibat dimanjakan, daya tahan stres merekapun tidak terbangun dengan baik. Tantangan dan kesulitan menjadi barang mewah bagi anak yang dimanjakan ini. Hingga masa remaja, mereka tidak cakap membedakan mana itu keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).
Dalam pengalaman kerja, di beberapa pusat rehab dan depresi, kami menemukan banyak dari remaja tersebut besar dengan dimanjakan. Mereka tidak cakap mengelola konflik saat berada di bangku SMP dan SMU. Mereka mulai menghadapi pelbagai kesulitan yang mereka tidak jumpai di rumah. Apalagi saat menjumpai orangtuanya mulai keras dan kasar, tidak seperti dia masih duduk di sekolah TK dan SD.
Akibatnya anak mudah stres, marah dan frustrasi, dan obat (narkoba) yang ditawarkan teman mereka rasakan mampu meredakan konflik batin tersebut. Meski mereka mungkin tidak sampai menggunakan narkoba, daya juang mereka relatif rendah. Ini mempengaruhi prestasi studi dan jenjang karir. Tidak sedikit mereka berpindah-pindah kerja hanya dengan alasan tidak enak dan tidak cocok dengan rekan sekerja.
Sebagai penutup tulisan ini, Penulis mengajak kita memikirkan hal ini. Bahwa hal yang menyiksa hidup (anak) kita sesungguhnya bukanlah kesusahan tetapi justru kesenangan (berlebih). Mereka yang terbiasa dengan kesenangan, (sering) merasa tak pernah puas dengan kesenangan. Saat kesusahan datang dia bingung bukan kepalang serta sulit bersyukur. Mudah stres dan mencari jalan pintas, seperti drug hingga mencelakakan diri.
Sedangkan mereka yang terbiasa hidup dengan disiplin dan hidup dengan kesusahan, justru lebih tahan banting dengan kesusahan. Mereka mudah terhibur dan menghargai kesenangan meski hanya sedikit. Mereka tertantang mengejar kesenangan (kesuksesan) secara sportif, bukan dengan jalan pintas karena fasilitas orangtua mereka. Bagi mereka kesulitan justru menjadi pemicu untuk maju dan bertumbuh. Ketika sukses mereka menghargai proses lebih dari pada hasil.
Semoga kita diberi hikmat, kasih dan kebijaksanaan mengasuh anak-anak titipanNya. Terhindar dari perilaku yang bisa menjadi “penyiksa” anak-anak dengan memanjakan mereka secara berlebihan.




{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar