OLAH RAGA-Catatan Saat Evan Dimas Sadar Sekolah Itu Penting

Bookmark and Share

Kamis, 30 Agustus 2012 08:00:13 WIB
Reporter : M. Syafaruddin

Surabaya (beritajatim.com) - Sepakbola nomor satu, sekolah nomor dua. Istilah ini lumrah terdengar di kalangan pesepakbola di tanah air. Banyak pesepakbola yang lebih mengutamakan capaian di lapangan hijau dari pada prestasi akademis. Mereka berdalih ingin membahagiakan orang tua dari sepakbola. Tak jarang di antara mereka ada yang putus sekolah untuk mengejar karier di olahraga nomor satu di jagad raya ini.

Tiba-tiba muncul pertanyaan di benar penulis, apakah sepakbola benar-benar menjadi prioritas utama bagi pesepakbola, khususnya di Indonesia. Lantas apa yang lebih penting, sepakbola atau sekolah? Atau keduanya sama-sama penting? Baru-baru ini penulis bertemu dengan salah satu bocah yang disebut-sebut sebagai wonderkid asal Surabaya, Evan Dimas. Evan baru pulang dari Barcelona. Dari cerita Evan, banyak pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Evan baru saja pulang dari Barcelona untuk mengikuti sebuah ajang pencarian bakat yang diselenggarakan brand peralatan olahraga dunia, Nike. Dia adalah wakil Indonesia yang berkesempatan menimba ilmu di Barcelona. Bersama tiga pemuda lainnya asal Asia Tenggara, yakni Rahmat Che Hashim (Malaysia), Napapon Sripratheep (Thailand) dan Muhammad Faris Bin Ramli (Singapura), mereka berempat berangkat ke Barcelona, 15 Agustus lalu.

Kurang lebih selama 10 hari, Evan harus menjalani serangkaian tes yang diawasi langsung oleh mentor-mentor khusus yang sudah ditunjuk oleh Nike. Evan ke Barcelona bukan tanpa 'modal'. Di lapangan hijau, ia berposisi sebagai midfielder. Kaki kanan dan kirinya hidup. Ia terkenal sebagai gelandang pekerja keras dan mudah naik pitam. Untuk urusan skill, tak ada yang meragukan kemampuan Evan.

Tapi apakah skill istimewa saja cukup? Ternyata tidak. Evan akhirnya terhenti di 100 besar. Ia harus mengubur dalam-dalam ambisinya untuk lolos ke fase 16 besar. Meski sangat singkat, Evan mengaku mendapat banyak pelajaran berharga yang tidak ia temukan di Indonesia. Salah satunya adalah pentingnya prestasi akademis bagi atlet, tak terkecuali pesepakbola.

Satu hal yang paling terasa adalah masalah komunikasi. Evan mengakui jika ia kurang fasih berbahasa Inggris. Ini juga imbas dari seringnya dia mengorbankan sekolah demi sepakbola. Akibatnya, ketika tergabung dalam satu grup yang berisi berbagai pesepakbola muda dari seluruh dunia, Evan harus bersusah payah untuk mengerti pembicaraan rekan-rekannya.

Bukan hanya di dalam kelompok saja, karena terkendala bahasa juga, Evan kesulitan menerjemahkan perintah pelatih. "Saya tidak bisa bahasa Inggris, jadi nggak bisa ngomong. Apalagi di latihan kan tidak ada translater. Melakukan apapun jadi takut salah, ya mau gimana lagi," ucap pemuda 17 tahun ini. Akibatnya ia tidak bisa maksimal untuk mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya.

Evan akhirnya gagal. Ia harus pulang ke Surabaya dengan perasaan sedih. Namun kegagalan itu tak membuatnya down. Ia sadar ada nilai yang terkandung dari kegagalan itu. "Saya sangat merasakan. Selama ini saya jarang masuk sekolah, lebih sering main sepakbola dan sekolah hanya nomor dua. Akan sangat terasa ketika saya berkumpul dengan orang-orang seperti itu dan saya tidak bisa Bahasa Inggris. Makanya saya sadar kalau sekolah itu penting," kata Evan.

Apa yang disampaikan Evan membuka mata kita bahwa sepakbola tidak bisa berdiri sendiri. Memiliki gocekan maut, umpan akurat, stamina selalu prima, speed di atas rata-rata, tendangan geledek serta heading mematikan tentu menjadi dambaan semua pesepakbola di muka dunia. Namun jika tak pararel dengan kemampuan akademis, bukan tidak mungkin kasus Evan akan terulang.

Di dunia, banyak pesepakbola yang tak hanya jago di lapangan hijau, tapi juga memiliki otak moncer. Mantan striker Tim nasional (Timnas) Jerman, Oliver Bierhoff misalnya. Saat meniti karier di sepakbola, pemain yang dikenal memiliki tandukan maut ini menempuh pendidikan ekonomi bisnis di Universitas Hagen, Jerman. Selain Bierhoff, pelatih Arsenal yang mendapat julukan 'The Professor', Arsene Wenger adalah sarjana di bidang ekonomi.

Sedangkan di Indonesia, kita juga punya sosok yang berimbang antara prestasi akademis dengan sepakbola. Dia adalah Ketua PSSI saat ini, Prof. Djohar Arifin Husin. Djohar adalah Sarjana Pertanian Perkebunan dari Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Ia meraih gelar Doktor (Ph.D) Bidang Perencanaan Kota & Wilayah, Universiti Malaya, Malaysia. Sebagai pemain, ia pernah membela PSMS dan PSL Langkat.

Lalu masih kah sepakbola paling penting dan melebihi segala-galanya? Bagaimana pun kita harus belajar dari apa yang dialami Evan. Jangan sampai seperti David Beckham yang menyerah saat dimintai putranya, Brooklyn mengerjakan tugas matematika. Lagi pula, peribahasa menyebut, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, bukan?

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar