NUSANTARA-Ponpes Ngruki Soal Terorisme: Kami Tidak Terkait tapi Kami Mohon Maaf

Bookmark and Share

Muchus Budi R. - detikNews
FOTO: Direktur Ponpes Al-Mukmin Ngruki, Ustaz Wahyuddin
Solo - Direktur Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Ustadz Wahyuddin, menegaskan pesantren yang dikelolanya sama sekali tidak terkait dengan kegiatan para alumni atau jebolan santri yang melakukan kekerasan. Namun demikian, Al-Mukmin merasa perlu menyampaikan rasa prihatin dan permohonan maaf kepada masyarakat luas atas tindakan sebagian alumni tersebut.

"Tidak mungkin kami melakukan hal-hal yang merugikan kami sendiri. Kami juga kaget mendengar informasi seperti ini. Kami mohon maaf seandainya ada alumni atau jebolan pesantren kami yang merugikan orang lain. Kami prihatin dan sekali lagi mohon maaf," ujar Wahyuddin kepada wartawan di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Senin (3/9/2012).

Wahyuddin mengatakan pihaknya sebenarnya telah cukup tenang setelah sudah agak lama tidak dikaitkan atau terkait dengan berbagai kejadian kekerasan di tanah air. Sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, para pengelola semakin memantapkan program untuk mencapai tujuan. Karenanya informasi mengenai Farhan dan Muchsin tersebut kembali mengusik ketenangan di Ngruki.

Lebih lanjut Wahyuddin mengatakan sama sekali tidak mengetahui motivasi yang dilakukan oleh Farhan dan Muchsin, kalaupun keduanya benar-benar sebagai pelaku penyerangan aset dan anggota kepolisian di Solo. Dia juga mengaku tidak habis pikir, kalau benar keduanya pelaku tetapi masih berkeliaran di dalam kota Solo dengan tenangnya.

"Ini kita dikagetkan, aksi anak-anak 19 tahunan. Disebut kader, juga bukan kader. Saya kira itu hanya anak-anak ingusan, pendek nalar dan emosional saja. Mungkin juga ada motif main-main, frustasi, atau putus asa. Atau mungkin juga karena kondisinya lalu ingin menunjukkan eksistensi untuk menyampaikan pesan bahwa 'aku masih ada'. Wallahu a'lam," ujar Wahyuddin.

Bisa juga yang dilakukan keduanya anak itu, lanjut Wahyuddin adalah bagian dari apa yang mereka qishash. Dalam Islam, lanjutnya, memang ada penerapan hukum qishash yaitu penghilangan nyawa harus diganti dengan nyawa. Mungkin saja kedua anak tersebut merasa perlu tampil sebagai pembela dari orang-orang yang telah lebih dulu ditembak mati oleh polisi.

"Mungkin saja selama pergaulan di luar pesantren kami, mereka kenal dengan orang-orang yang telah ditembak mati polisi, lalu timbul tekad membalas perlakukan itu terhadap polisi. Pembalasan yang dilakukan juga kepada polisi secara kelembagaan," kata menantu Abdullah Sungkar tersebut.

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar