EKONOMI-Neraca Perdagangan RI Masih Defisit

Bookmark and Share

Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Senin, 3 September 2012, 11:58 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Indonesia kembali mencatatkan defisit neraca perdagangan, walaupun angkanya menurun bila dibanding bulan sebelumnya, dengan penyebab utama masih besarnya impor hasil minyak.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin menyatakan, neraca perdagangan pada Juli 2012 masih tercatat defisit sebesar US$176,6 juta. Secara kumulatif Januari-Juli 2012 tercatat surplus US$335,5 juta.

"Defisit kita pada Juli ini jauh menurun bila dibanding Juni yang sebesar US$1,32 miliar dan bulan-bulan sebelumnya. Kita berharap nanti bisa berganti surplus," ujarnya di Jakarta, Senin (3/9/2012).

Menurut komponen barang, lanjutnya, neraca perdagangan barang migas pada Juli 2012 tercatat surplus US$224,7 juta, minyak mentah surplus US$252,8 juta. "Namun hasil minyak masih defisit, yaitu US$1,6 miliar. Dan gas masih tercatat surplus US$1,59 miliar. Komponen non migas juga tercatat defisit US$421,2 juta," ujarnya. Sepanjang Jauari-Juli 2012, hasil minyak tercatat defisit US$13,453 miliar.

Ekspor Juli 2012 tercatat US$16,15 miliar atau turun 7,27%, dibanding Juli 2011. Bila dibanding Juni 2012 ekspor masih tercatat naik 4,6%. "Terjadi kenaikan pada dua komponen, baik migas ataupun non migas. Komponen migas naik menjadi US$2,98 miliar dari US$2,9 miliar. Non migas naik menjadi US$13,17 miliar dari US$12,54 miliar," tuturnya.

Total ekspor Januari-Juli 2012 turun 2,52% ke 113,11 miliar year on year. Ekspor non migas Januari-Juli 2012 tercatat US$89,97 miliar atau turun 2,9% year on year. "Kontribusi terbesar masih bahan bakar mineral US$15,95 miliar. Lemak dan minyak hewan nabati US$12,5 miliar," jkata Suryamin.

Pangsa pasar ekspor untuk periode Januari-Juli 2012 dikuasai China US$12,02 miliar, Jepang US$10,24 miliar dan AS US$8,74 miliar. ASEAN US$18,04 miliar dan Uni Eropa 1US$0,67 miliar.

Ekspor indonesia menurut sektor pada Januari-Juli 2012, barang industri mendominasi US$68,04 miliar (60,15%), migas US$23,15 miliar (20,46%), tambang dan lainnya US$18,85 miliar (16,67%), dan pertanian US$3,07 miliar (2,72%).

Sedangkan impor pada Juli 2012 US$16,33 miliar naik 0,75% dibanding Juli 2011. Bila dibanding Juni 2012 turun 2,39%, yang dikarenakan sumbangan tertinggi pada komoditi migas 18,51% jadi US$2,73 miliar dari US$3,35 miliar. Dan impor non migas naik 1,66%.

Impor secara akumulasi pada periode Januari-Juli 2012 tercatat sebesar US$112,78 miliar, atau naik 13,02% year on year. Impor non migas pada Januari-Juli US$88,61 miliar naik 15,45% year on year. "Share terbesar mesin dan peralatan mekanik US$16,67 miliar, mesin dan peralatan listrik US$11,31 miliar. Ini berkaitan dengan pertumbuhan investasi ya," tuturnya.

Pangsa impor utama terdiri dari China US$17,37 miliar, Jepang US$13,94 miliar, Thailand US$6,86 miliar. Impor dari ASEAN US$19,17 miliar dan Uni Eropa US$7,93 miliar.

Impor menurut golongan penggunaan barang pada periode Januari-Juli 2012, bahan baku/penolong US$81,95 miliar (72,66%), barang modal US$22,87 miliar (20,28 %), dan barang konsumsi US$7,96 miliar(7,06%). "Keseluruhan golongan barang ini masih terjadi peningkatan. Share untuk barang konsumsi menurun," tutur Suryamin.

Defisit neraca perdagangan Juli ini sudah diprediksi oleh ekonom Lana Soelistianingsih sebelumnya, meskipun estimasinya masih terlalu tinggi, yakni US$800 juta. Menurutnya, nilai impor lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor, namun permintaan impor mulai berkurang karena pelemahan nilai tukar rupiah.

Sedangkan nilai ekspor secara dibandingkan bulan sebelumnya turun lebih besar, karena harga komoditas andalan ekspor non migas Indonesia seperti batu bara, karet, kakao masih turun, kendati ada sediit kenaikan pada harga kelapa sawit rata-rata per Juli ada.

“Selain karena harga, permintaan juga turun karena pelemahan ekonomi Cina, India, dan Uni Eropa sebagai negara mitra ekspor non migas berbasis komoditas,”katanya. [Ast]

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Poskan Komentar